Unfinished Story 

Tersebut satu malam, seorang bocah perempuan kecil menengadah merapal doa seusai sholat malamnya. Entah apa yang dipinta, yang sama-sama kita tahu bulir air mata merayap pelan di pipinya. Isak tangis khas seorang bocah sesekali membuyarkan sepi malam di rumah itu, beruntung teman satu kamarnya tidur sangat pulas, pertahanan tidurya tidak goyah barang satu gerakan pun.

Pagi datang lebih cerah dari kemarin, matahari begitu hangat, pelan mengambil air-air yang semalan di embunkan dingin di permukaan bumi.

[unfinished]

Iklan

Faded Away (for Ms. Muji) 

Ada yang pelan-pelan, sangat pelan bahkan, beranjak pergi. Tidak, tidak menghilang, hanya pergi.

Sosok gadis yang awalnya aku kira amat pendiam, mungkin karena suaranya yang pelan (baca: lembut #uhuk). Dia bahkan (seingatku) orang yang paling terakhir yang akhirnya aku kenal dekat di Kantor. Aku tidak ingat betul kapan Aku pertama kali berani menumpah-ruahkan apa-apa yang mengganjal di dada untuk akhirnya tersampaikan kepada wanita yang darinya Aku dapatkan nasihat-nasihat bak Gurutta dalam Rindu-nya Tere Liye.Read More »

Sementara Tanpa Judul

​Ada yang tiba-tiba mikir: “saya jd tidak sebaik dulu setelah berada di sini”.

Entah di lingkungan kerja, atau pun kuliah misalnya. Ehm, coba flashback ke zaman dimana kalian akhirnya menentukan untuk: “ok, aku akan kerja disini”, atau “bismillah, aku akan kuliah disini”, dan lain sebagainya. Sudahkan kamu libatkan Allah saat kamu mengambil keputusan itu?, dengan terlebih dahulu istikhoroh misalnya, jika jawabannya “sudah”, harusnya tidak ada yg perlu di khawatirkan, mungkin saja kamu sedang di uji, sampai seberapa kamu dapat mempertahankan keimananmu, kebanyakan orang-orang sukses kan sebab karena mereka dipaksa keluar dari kotak nyamannya. Atau dengan keberadaanmu di lingkungan yang menurutmu tidak sebaik tempatmu sebelumnya bisa saja agar kamu dapat menjadikan lingkungan barumu sebagai ladang da’wah. Jangankan di Jakarta, bahkan di tempat sekelas pondok pesantren pun pasti akan kamu temukan sisi-sisi tidak baiknya, dulu saat saya mondok, saya sudah merasakan, ada teman-teman yang kurang baik yang mengajak ke hal-hal yang berbau negatif, dan cara agar saya tidak ikut-ikutan mereka ya dengan memilih teman yang baik, ikut kegiatan-kegiatan yang baik.

Hal yang sama juga lebih saya rasakan lagi saat masuk kuliah, bayangkan saja, yang sebelumnya saya seorang yang unyu-unyu yang baru saja lulus dari pesantren akhirnya harus kuliah di sebuah ptn negeri, pergaulan di kampus negeri pasti akan jauh berbeda dengan yang ada di pondok, dan benar saja, memang begitu keadaannya, akhirnya agar saya tidak kelewat jauh dengan agama saya ikut menyemplungkan diri di LDK kampus. Tapi ya akhirnya saya bersyukur pernah berada di lingkungan seperti itu, ternyata kebanyakan dr teman-teman saya adalah orang yang “ingin baik”, mereka banyak bertanya ini itu tentang agama (walau akhirnya mereka kurang mendapatkan jawaban yang memuaskan karena ilmu agama saya juga sebenarnya kurang hehe), sebagian lagi ada yang minta di ajari ngaji karena belum lancar, dan lain sebagainya. Saya jadi tahu, oh ternyata begini orang-orang di luar sana, oh ternyata begini orang-orang yang bukan lulusan pesantren. Ajak mereka berteman, ajak untuk saling mengingatkan.

Intinya jangan pernah menyalahkan atau menyesali pilihan, apalagi jika sudah melibatkan Allah dalam pilihanmu. Pilih teman-teman yang baik yang bisa di ajak saling mengingatkan dalam hal baik. Jika kamu menemukan teman-teman yang “ingin menjadi baik” maka itu akan lebih bagus lagi, itu ladang da’wah, saling bernasihat, saling mengingatkan, bukankan disitu kamu akan merasakan indahnya islam (hehehe) 😄.

Jadi, laa tahzan.. Jangan sedih lagi, kalo masih sedih,.. Sini om beliin es krim 😝.

~ Ciputat, 25 Januari 2017

Titik Bifurkasi (Sebuah Fiksi)

Sebuah fiksi, tentang Aku, Kamu, dan.. Dia.

Mari, aku ceritakan satu kejadian, yang pernah membuatku sakit. Kalian juga harus tahu, aku mulai terbiasa merasakan ini.

..::..

Jam sebelum ashar di Jakarta, Senayan, JCC tepatnya. Hari itu sedang ada pameran buku, Indonesia International Book Fair (IIBF). Aku dan temanku berkeliling dari satu booth ke booth lain, bertemu penulis yang terkenal ‘misterius’, Tere Liye, dan memintanya menandatangani salah satu bukunya yang aku bawa dari rumah, AMELIA. Jauh-jauh hari aku pernah bilang buku ini nantinya untukmu, karena kamu dan Amelia sama-sama anak bungsu. Pasti lebih spesial kalau ada tanda tangan penulisnya.Read More »

Dilan Mana?! | Ituu, lagi syuting!

Novel yang saya baca, atau mungkin film yang saya tonton, akan terasa lebih ngena saat kisah dalam tulisan atau film itu sedikit banyak mengggambarkan apa yang sedang atau pernah saya alami, semacam kita beseru: been there, done that!!. Dan begitu pula saat saya membaca penggalan buku Dilan (Belum selesai baca, soalnya baru baca sample-nya di Google Play Book. Hehe), frame-frame film seakan di putar di atas kepala saya, slide demi slide kenangan  muncul begitu saja, tak jarang saya senyam-senyum sendiri, saya ingat saat itu saya sedang membaca di angkot, untungnya malam, gelap sedikit menyamarkan senyam-senyum saya. Eh tapi, sebenarnya, senyam-senyum saya sebagian besar karena geli aja, lucu sama tingkah Milea dan Dilan.

Daaan… Kabar baiknya, Dilan akan segera di angkat ke layar lebar!. Saat ini Dilan sedang dalam proses syuting. Saya belum tau siapa yang akan memerankan Dilan. Sedang tokoh Milea di perankan oleh Vanesha Prescilla. Kita liat dulu yuk sedikit cuplikan teaser-nya….

Gimana? Gimana?… menurut saya sih pemeran Mileanya udah cocok. Kita tunggu aja deh ya filmnya. Mau ngajak siapa yaa ke bioskop nanti.. hehe.

video lain: https://www.youtube.com/watch?v=FKC8BHojTn8&t=8s
Jakarta, 21 November 2016

Meracau tentang Jodoh 

Suatu hari, dulu, aku pernah bercanda dengan salah seseorang ‘teman’. Aku bilang,  Jika suatu saat aku menemukan jodohku, segera setelah mengucap akad nikah, sebelum aku mencium dahi istriku, aku akan geregetan mencubit hidungnya sambil berkata: “oh, jadi ini jodohku, kemana aja sih?, aku sampai galau berkali-kali karena tak kunjung bertemu denganmu. Aku sampai kenyang dengan sakit hati berkali-kali. (uhuwww)Read More »