Beberapa Foto yang Mewakili Ingatanku Tentang Riau, Khususnya Dumai

Yang satu ini adalah gambar salah satu rumah disana, ya walaupun tidak semua, tapi gak sedikit rumah-rumah berbahan kayu dengan dinding papan seperti ini disana, salah satunya rumahku dulu, kalau rumahku yang sekarang sudah pake batu bata hehe.

Rumah seperti ini disana kebanyakan berada di pinggir-pinggir kota, soalnya kan dekat rawa-rawa, jd harus diberi kaki rumahnya supaya gak kemasukan air (paling sih). Tapi rumah-rumah di tempat yang agak kota sudah pada berbatu semua. Rumahku dulu juga berkaki seperti ini, tapi sebenarnya agak jauh juga dari rawa, mungkin ada kakinya soalnya yang desain orang perantauan yang baru datang dari kalimantan, kan rumah dikalimantan berkaki seperti ini juga. Ya, yang desain rumahku di Dumai itu Abi ( ayahku), perantau yang baru datang dari kalimantan (dulunya).
Lanjutkan membaca “Beberapa Foto yang Mewakili Ingatanku Tentang Riau, Khususnya Dumai”

Hati Itu Sedang Terkubur

    Enam orang mahasiswa itu sedang tertidur dengan pulasnya setelah seharian menjalankan aktifitasnya di kampus. namun di atara keenam orang itu ada di antara mereka yang selalu tidak tidur saat malam, selalu mengerjakan tugas project-project kuliah bersama laptopnya. Dia baru akan tidur saat matahari akan terbit. Islam. tetapi belum pernah terlihat Sholat di kontrakannya. bahkan saat waktu sholat jum’at pun pernah absen dan lebih memilih tersungkur bersama mimpi dalam tidurnya.

    Selain itu, diantara keenam orang itu juga ada yang hampir setiap hari meninggalkan sholat shubuh. dan yang menjadi kesamaan diantara keenam orang itu adalah mereka yang jarang sekali membuka Al-Qur’an dan membacanya. kitab suci mereka dibiarkan berdebu. Itulah mengapa rumah yang mereka huni bagaikan kuburan. Rumah tanpa hiasan Lantunan Al-Qur’an di dalamnya.

    

    Waktu menunjukkan pukul 4.30 , Alarm handphone berbagai merek dalam rumah itu berkoar-koar bersahutan serempak membangunkan tuannya. namun tak sedikit dari mereka yang tidur seperti orang mati. kokoh tak tergoyahkan oleh suara alarm yang disetel dengan volume yang lumayan keras. padahal alarm itu sudah disetel terlambat yang seharusnya waktu shubuh di sana pukul 3.50. hingga akhirnya sebagian bangun jam 5, sebagian lagi bangun saat hangatnya matahari sudah menguapkan embun di dedaunan.

    Begitu salalu setiap hari. kuburan itu terasa semakin gelap. kadang muncul setitik cahya, namun seketika redup kembali dan butuh waktu lama lagi untuk dapat melihat cahaya itu. ya, mereka jarang sekali mebaca Al-Quran.

    Rumah ini butuh hidayah. untuk menyibak pekatnya awan kelabu dosa. yang telah lama menyelimuti. semoga para hati yang mendiami kabut hitam itu belum dikunci, semoga hati mereka belum terkunci dari hidyah-Nya. aamiin.

 

Surabaya, 6 Desember 2012

Pelajaran Ketika Saya Puasa (1)

Saat itu, di minggu-minggu terakhir, saya seperti kehilangan semangat untuk puasa sunnah. Punya niat, tapi realisasinya nol. Misalnya, rabu pagi sudah niat tapi malamnya semangat puasanya menguap. Begitu berlangsung mungkin hingga satu bulan –atau lebih—.

Namun akhirnya—itu pun kebetulan, tanpa niat puasa—malam senin, saya nitip Mie instan ke teman saya karena saya sedang malas keluar rumah. Malam itu saya sempatkan membuat mie via reskuker—:D —untuk sahur malam itu juga, karena akhir-akhir ini saya selalu bangun saat matahari sudah terbit (ini juga kebiasaan buruk baru yang ingin sekali saya hilangkan). Dan, sayapun benar-benar niat untuk puasa besok, meskipun terasa berat karena telah—lumayan—lama meninggalkan puasa sunnah.

Fajar menyingsing. Saya bangun untuk sahur, “Oh!”, ternyata cahaya terang samar-samar terlihat dari balik horden di jendela. Lagi-lagi saya bangun kesiangan, bergegas saya ambil wudhu dan sholat shubuh. Bagaimanapun kali ini saya tidak boleh membatalkan puasa. Kemudian saya mandi dan berangkat ngampus. Bismillah.

Nah, di hari ini lah saya mendapatkan pengalaman yang ingin saya ceritakan disini sekalian latihan nulis.

Siang, sebelum praktikum saya meminjam jas lab (jas untuk praktikum) di kelas tetangga yang sudah lebih dulu praktikum sebelum jam praktikum kelas saya. Jadi kelas mereka kaluar kelas saya masuk untuk praktikum. Belum semapat saya pakai, jas lab tersebut entah kenapa tiba-tiba hilang saat saya melihat-lihat teman saya yang bercanda. Lengah saat itu, tapi tidak sewajarnya hilang.

Alhamdulillah, teman saya ada yang membawa jas lab dua, jadi bisa saya pinjam untuk saat itu. Sepanjang kegiatan praktikum saya mencari, tapi tidak juga ketemu. Hingga akhirnya saya berdo’a agar jas lab itu bisa segera saya temukan.

Beberapa saat setelah usai kuliah, saya ber-papasan dengan taman saya dan dia menanyakan kepada saya apakah ada diantara teman sekelas saya yang kehilangan jas lab, karena tadi saat kelasnya bergantian praktikum dengan kelas saya tidak sengaja dia memasukkan jas lab di atas meja praktikum ke dalam tasnya. Mendengar itu saya kaget, senang, karena orang yang kehilangan adalah saya sendiri. Alhamdulillah, lega. Berkat do’a. Berkat puasa.

“Tiga golongan yang tidak tertolak doanya: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzalimi.” (hadits hasan rwayat Ahmad).

    InsyaAllah To Be Continue..