Preparation: Do’a untuk Istri Selepas Ijab Qobul

Ehm.. Tiba-tiba kepikiran untuk bikin postingan yang isinya semacam bookmark, yaitu hal-hal random yang saya temukan secara tidak sengaja yang nantinya berguna saat saya menjalin sebuah (ehm) ikatan halal… ~Yoyoyyyyy (emot senyum pake kaca mata item). Dan bookmark ini saya masukkan ke rubrik “Preparation”.

Kali ini, ada do’a yang di ucapkan oleh Suami kepada Istrinya sesaat setelah mengucapkan ijab qobul. Saya sebenernya baru nemu nih kalau ada do’a ini, berdo’anya pun dengan cara sang Suami memegang ubun-ubun sang Istri. Prosesi penikahan yang baru-baru ini saya lihat menggunakan do’a ini yaitu di pernikahannya Muzammil Hasbalah dengan Istrinya, Sonia.

muzammil hasbalah sonia
Muzammil saat mendo’akan Istrinya sesaat setelah ijab qobul

Daaannn, ini do’anya, dihafalin dan semoga bisa segera mengamalkan.. wehehehe ~ Allahumumma Aamiin.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Allaahumma innii as-aluka khayraha wa khayra maa jabaltahaa ‘alaihi wa a’uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa ‘alaihi

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya.

 

Waktu.

Hari sudah cukup larut, obrolan masih saja hangat di pojok tempat makan di salah satu Mall di bilangan Jakarta Selatan. Perlahan oran-orang mulai meninggalkan meja makannya, atau yang tadinya riuh tertawa kini mulai kehabisan bahasan berganti dengan menatap layar handphone masing-masing, di pojok lain ada yang mulai merapikan laptop yang dari tadi dia gunakan entah untuk apa. Tapi tidak di meja ini, pembahasan soal jodoh selalu menarik dan berhasil menyita waktu hingga larut malam. Bahkan, jika waitress sudah memberi kode untuk “mengusir” kita dari tempat duduk, selalu ada tempat lain di luar Mall untuk kembali duduk dan melanjutkan pembahasan tadi.

Tapii.. Ah, ada sesuatu yang mengganjal dengan rutinitas ini, entah apa, mungkin tentang waktu, iya, waktu.

Unfinished Story 

Tersebut satu malam, seorang bocah perempuan kecil menengadah merapal doa seusai sholat malamnya. Entah apa yang dipinta, yang sama-sama kita tahu bulir air mata merayap pelan di pipinya. Isak tangis khas seorang bocah sesekali membuyarkan sepi malam di rumah itu, beruntung teman satu kamarnya tidur sangat pulas, pertahanan tidurya tidak goyah barang satu gerakan pun.

Pagi datang lebih cerah dari kemarin, matahari begitu hangat, pelan mengambil air-air yang semalan di embunkan dingin di permukaan bumi.

Faded Away (for Ms. Muji) 

Ada yang pelan-pelan, sangat pelan bahkan, beranjak pergi. Tidak, tidak menghilang, hanya pergi.

Sosok gadis yang awalnya aku kira amat pendiam, mungkin karena suaranya yang pelan (baca: lembut #uhuk). Dia bahkan (seingatku) orang yang paling terakhir yang akhirnya aku kenal dekat di Kantor. Aku tidak ingat betul kapan Aku pertama kali berani menumpah-ruahkan apa-apa yang mengganjal di dada untuk akhirnya tersampaikan kepada wanita yang darinya Aku dapatkan nasihat-nasihat bak Gurutta dalam Rindu-nya Tere Liye.

Pangeran Berkuda Putih, ah ini lagi, hampir ratusan kali mungkin aku dengan kata-kata itu dari dia :D, sosok imam idaman yang insyaAllah sebentar lagi akan benar-benar menghampiri dengan entah dengan kuda versi yang mana lagi hehe. Setiap aku ragu untuk mengatakan kegelisahanku, selalu dia bilang, “Mumpung Aku masih disini Lho, ntar kalo aku udah pergi gak bisa cerita lagi kamu”, atau, “Mumpung Aku belum nikah lho fa”. Aih.. dan sekarang udah benar-benar pergi, memisah dalam jarak yang cukup jauh, sejauh 90 ribu tiket kereta ekonomi, itu pun kalau bukan musim liburan.

Hari ini, Dia datang lagi, setelah hampir seminggu pulang untuk menyambung ikatan silaturahmi dengan keluarga di Tegal. Ehmm.. ada “barang aneh” lagi yang dibagi-bagikan, Eskrim kaos kaki ;D. Iya, es krim! Kaos kaki!, Sungguh varian rasa Es Krim baru yang menakjubkan, di jilat ampe kurus juga pasti masih utuh ini :D.WhatsApp Image 2017-03-10 at 16.41.29.jpeg

Penampakan Es Krim Kaos Kaki 😀

Ada sebutan lain untuk Miss satu ini, “Kamus Berjalan!”, sebab cuma dia di kantor yang bahasa inggrisnya tjakep pisan. Jadi kita sebagai teman-teman yang baik akan memanfaatkan teman ini dengan sebaik-baiknya 😀 . Duh, semenjak Dia pergi, hanya Google translate yang mampu menggantikan, pun dengan suggestion sinonim yang tidak sebaik kamus berjalan ini.

Udah dulu lah ya, mood lagi bagus ini, jadi belum bisa nulis yang bikin mewek-mewek, sementara ini dulu aja ya Miss Siti Mujiyati (atau Siti Mujiati ya?, suka salah kalau nulis namanya Miss Muji). Wal akhir, terimaksih telah membersamai kami ya miss, membersamai di tempat yang akhir-akhir ini sering kau sebut Narnia-mu, jangan lupa IG-nya di mainin, biar gak sepi 😛 .

Sebenarnya ini masih sangat sedikit dari sekian banyak yang ingin Aku tuliskan tentangmu (hazekk) disini. Tapi ntar gak kerja-kerja trus di jitak Mr Go, jadi harus diakhiri sampai disini saja, lain waktu lanjut lagi kalo Mr Go lagi gak masuk 😀 . (a-l-i-b-i)

salam hangat, dari orang yang suka bikin Miss Muji geregetan karena belum berani-berani “bergerak” 🙂 .

~ di bawah langit mendung Jatipadang, 10 Maret 2017

Sementara Tanpa Judul

​Ada yang tiba-tiba mikir: “saya jd tidak sebaik dulu setelah berada di sini”. 

Entah di lingkungan kerja, atau pun kuliah misalnya. Ehm, coba flashback ke zaman dimana kalian akhirnya menentukan untuk: “ok, aku akan kerja disini”, atau “bismillah, aku akan kuliah disini”, dan lain sebagainya. Sudahkan kamu libatkan Allah saat kamu mengambil keputusan itu?, dengan terlebih dahulu istikhoroh misalnya, jika jawabannya “sudah”, harusnya tidak ada yg perlu di khawatirkan, mungkin saja kamu sedang di uji, sampai seberapa kamu dapat mempertahankan keimananmu, kebanyakan orang-orang sukses kan sebab karena mereka dipaksa keluar dari kotak nyamannya. Atau dengan keberadaanmu di lingkungan yang menurutmu tidak sebaik tempatmu sebelumnya bisa saja agar kamu dapat menjadikan lingkungan barumu sebagai ladang da’wah. Jangankan di Jakarta, bahkan di tempat sekelas pondok pesantren pun pasti akan kamu temukan sisi-sisi tidak baiknya, dulu saat saya mondok, saya sudah merasakan, ada teman-teman yang kurang baik yang mengajak ke hal-hal yang berbau negatif, dan cara agar saya tidak ikut-ikutan mereka ya dengan memilih teman yang baik, ikut kegiatan-kegiatan yang baik. 

Hal yang sama juga lebih saya rasakan lagi saat masuk kuliah, bayangkan saja, yang sebelumnya saya seorang yang unyu-unyu yang baru saja lulus dari pesantren akhirnya harus kuliah di sebuah ptn negeri, pergaulan di kampus negeri pasti akan jauh berbeda dengan yang ada di pondok, dan benar saja, memang begitu keadaannya, akhirnya agar saya tidak kelewat jauh dengan agama saya ikut menyemplungkan diri di LDK kampus. Tapi ya akhirnya saya bersyukur pernah berada di lingkungan seperti itu, ternyata kebanyakan dr teman-teman saya adalah orang yang “ingin baik”, mereka banyak bertanya ini itu tentang agama (walau akhirnya mereka kurang mendapatkan jawaban yang memuaskan karena ilmu agama saya juga sebenarnya kurang hehe), sebagian lagi ada yang minta di ajari ngaji karena belum lancar, dan lain sebagainya. Saya jadi tahu, oh ternyata begini orang-orang di luar sana, oh ternyata begini orang-orang yang bukan lulusan pesantren. Ajak mereka berteman, ajak untuk saling mengingatkan. 

Intinya jangan pernah menyalahkan atau menyesali pilihan, apalagi jika sudah melibatkan Allah dalam pilihanmu. Pilih teman-teman yang baik yang bisa di ajak saling mengingatkan dalam hal baik. Jika kamu menemukan teman-teman yang “ingin menjadi baik” maka itu akan lebih bagus lagi, itu ladang da’wah, saling bernasihat, saling mengingatkan, bukankan disitu kamu akan merasakan indahnya islam (hehehe) 😄.

Jadi, laa tahzan.. Jangan sedih lagi, kalo masih sedih,.. Sini om beliin es krim 😝. 

~ Ciputat, 25 Januari 2017

Titik Bifurkasi

(Sayangnya ini bukan) Sebuah fiksi, tentang Aku, Kamu, dan.. Dia.

Mari, aku ceritakan satu kejadian, yang pernah membuatku sakit. Kalian juga harus tahu, aku mulai terbiasa merasakan ini.

..::..

Jam sebelum ashar di Jakarta, Senayan, JCC tepatnya. Hari itu sedang ada pameran buku, Indonesia International Book Fair (IIBF). Aku dan temanku berkeliling dari satu booth ke booth lain, bertemu penulis yang terkenal ‘misterius’, Tere Liye, dan memintanya menandatangani salah satu bukunya yang aku bawa dari rumah, AMELIA. Jauh-jauh hari aku pernah bilang buku ini nantinya untukmu, karena kamu dan Amelia sama-sama anak bungsu. Pasti lebih spesial kalau ada tanda tangan penulisnya.

Aku dan temanku istirahat sejenak, duduk di ujung lorong, pikiranku tak tenang, jantungku berdegup tak karuan, aku bisa dengan jelas merasakannya, seperti memukul-mukul dadaku dari dalam, entah kenapa, bahkan badanku mulai panas-dingin. Memandangi satu-satu dengan teliti lalu-lalang orang di ujung yang lain, sekitar lima puluh meter jaraknya –atau mungkin lebih. Aku berharap melihatmu di antara orang-orang itu. Ah, sebenarnya aku tidak benar-benar percaya bisa melihatmu lewat di ujung sana, seperti di film saja.

Tapi, tidak lama, sekitar sepuluh menit setelah aku duduk –atau mungkin lebih, di ujung sana aku melihat Dia, tak yakin sebenarnya, aku belum melihatmu.

“Fan, aku ke sana dulu ya, kamu tunggu di sini”, aku berdiri, tergesa-gesa aku izin ke temanku, untuk mendekat memastikan sosok kelebat Dia di ujung sana. “Iya fa”, jawabnya pendek sambil terus memandangi handphone-nya”, jantungku semakin tak karuan, tapi aku harus tenang.

Benar saja, setelah aku mendekat, ternyata itu memang Dia, dan ada kamu tepat di sampingnya. Aku hanya melihat diam-diam dari booth lain, mengambil buku apapun yang dapat aku pura-pura baca, tanganku memegang buku, sedikit gemetar, sementara mataku memperhatikan kalian berdua, dan hatiku…. haha, jangan tanya. Kamu memakai kerudung hitam, bajumu juga hitam, celananya, sepatunya, juga hitam. Sama-sama membawa ransel. Kamu memakai ransel cokelat. Dia menggendong ransel hitam dan terselip di kantong samping ransel sebotol air mineral, Apa kalian juga minum dari botol yang sama, seperti yang biasa kita lakukan?. Aku juga memakai tas hitam kok, tetapi hanya memperhatikan saja.

Aku melihat dia membawa kantong plastik putih yang terisi penuh oleh buku, pasti kalian baru saja memborong buku-buku itu tadi, pasti tadi kalian asyik berbincang-bincang tentang buku ini dan itu, mendiskusikan buku mana yang bagus untuk di beli. Ah.. aku cemburu.

Kalian kembali berjalan, berdampingan, melihat-lihat booth lain, sampai akhirnya berhenti melihat dua orang yang cukup tua bernyanyi, menyanyikan syair-syair dan puisi Sapardi, dari sekian banyak yang di nyanyikan aku tertarik mendengarkan salah satu yang berjudul Hujan Bulan Juni, karena aku pernah membaca puisi itu sebelumnya, yang aku tahu puisi itu juga ada versi komiknya. Selain lagu itu, aku tidak lagi tahu mereka berdua menyanyikan apa, aku hanya memandangi kalian berdua dari sisi lain kerumunan penonton. Memandangi wajahmu di sela-sela dagu penonton, kadang aku perlu sedikit mundur atau maju saat hanphone salah satu penonton yang merekam orang tua itu bernyanyi menghalangi pandanganku ke wajahmu. Kalian lebih banyak diam saat melihat pertunjukan itu, benar katamu, kamu dan dia masih terlihat canggung. Tapi kadang kamu menoleh ke arahnya mengatakan atau mungkin bertanya sesuatu, dia mendekatkan telinganya ke wajahmu karena mungkin suaramu terdengar pelan, dekat sekali, dan kamu mengulangi mengatakan atau menanyakan sesuatu tadi setelah dia mendekatkan telinganya kepadamu. Kadang kamu tertawa padanya. Ah.. aku cemburu.

Beberapa saat aku tak memperhatikan kalian, karena ternyata ada lagu lain yang membuatku tertarik, saat aku menoleh lagi ke kalian, kalian sudah tidak ada di situ, aku panik, aku berjalan cepat ke pintu keluar, menoleh-noleh lagi memastikan kalian di mana. Hilang!. Aku mempercepat langkahku keluar, melihat di jalan, kiri, kanan, tidak ada. Aku menyusuri lagi jalan di depan, melihat setiap orang yang sedang duduk, berjalan, ngobrol, semuanya. Tapi yang kucari tetap tidak ada. Lemas. Aku kembali masuk ke ruang pameran. Oh!, ternyata kalian masih di dalam. Kaosku sedikit basah oleh keringat, nafasku tersengal, tapi aku lega, masih dapat memandangimu lebih lama di situ, meski tidak di sampingmu. Andai saat itu aku yang di sampingmu, pasti akan mengajakmu ke mushola di bawah, segera, sudah masuk waktu ashar, sholat dulu yuk. Begitu.

Saat pulang, di kos, aku masih panas dingin, meriang, sakit. Lalu tidur lebih cepat dari biasanya.

Sejak itu, aku mulai terbiasa… dan selalu memaafkan walau sebenarnya tidak ada yang salah. Perasaanku tentu juga tidak dapat disalahkan, kan?.

~ Ciputat, 7 September 2015

Nb: Ini tulisan lama, jadi, arapmaklum, lebay-alay gimanaaa gitu wkwkwk

Dilan Mana?! | Ituu, lagi syuting!

Novel yang saya baca, atau mungkin film yang saya tonton, akan terasa lebih ngena saat kisah dalam tulisan atau film itu sedikit banyak mengggambarkan apa yang sedang atau pernah saya alami, semacam kita beseru: been there, done that!!. Dan begitu pula saat saya membaca penggalan buku Dilan (Belum selesai baca, soalnya baru baca sample-nya di Google Play Book. Hehe), frame-frame film seakan di putar di atas kepala saya, slide demi slide kenangan  muncul begitu saja, tak jarang saya senyam-senyum sendiri, saya ingat saat itu saya sedang membaca di angkot, untungnya malam, gelap sedikit menyamarkan senyam-senyum saya. Eh tapi, sebenarnya, senyam-senyum saya sebagian besar karena geli aja, lucu sama tingkah Milea dan Dilan. Tapi sayangya, terkadang saya juga bergumam, harusnya dulu aku begitu.

Daaan… Kabar baiknya, Dilan akan segera di angkat ke layar lebar!. Saat ini Dilan sedang dalam proses syuting. Saya belum tau siapa yang akan memerankan Dilan. Sedang tokoh Milea di perankan oleh Vanesha Prescilla. Kita liat dulu yuk sedikit cuplikan teaser-nya….

Gimana? Gimana?… menurut saya sih pemeran Mileanya udah cocok. Kita tunggu aja deh ya filmnya. Mau ngajak siapa yaa ke bioskop nanti.. hehe.

video lain: https://www.youtube.com/watch?v=FKC8BHojTn8&t=8s
Jakarta, 21 November 2016

Meracau tentang Jodoh 

Suatu hari, dulu, aku pernah bercanda dengan salah seseorang ‘teman’. Aku bilang,  Jika suatu saat aku menemukan jodohku, segera setelah mengucap akad nikah, sebelum aku mencium dahi istriku, aku akan geregetan mencubit hidungnya sambil berkata: “oh, jadi ini jodohku, kemana aja sih?, aku sampai galau berkali-kali karena tak kunjung bertemu denganmu. Aku sampai kenyang dengan sakit hati berkali-kali. Lanjutkan membaca “Meracau tentang Jodoh “