Ku Kira Kau Rumah

Iklan

Karena Siapa?

Pernah tidak, kamu merasa telah menemukan arah, dengan wasilah seseorang yang bukan siapa-siapamu tapi diam-diam kau akui dia adalah dia-mu. Lalu secara tak sadar kau seperti sudah mengetahui akan pergi kemana dengan semua rasa kagummu.

Lalu tetiba satu hari kau kehilangan semua raga dan segala sifatnya yang kau kagumi, kemudian kau kembali kehilanghan kompas, kembali buta arah.

Dihari berikutnya, seseorang lain datang memberimu kompas yang lebih cangggih. Kali ini kau benar-benar yakin ini arahmu, berjalan dengan sesuatu yang baru dari seseorang yang baru saja kau kenal, hingga ujungnya terdampar di tepian pantai. luas, dan tak ada apa-apa disana selain desir ombak yang tetap kau rasai sebagai sunyi.

Kali ini, kau akhirnya mulai sadar..

Semua ini untuk siapa, kau berjalan dengan arahan siapa, semua ini karena apa… atau.. karena siapa?

 coba tegaskan dalam niat; “Karena Allah, harus karena Allah, untuk Allah, Lillah”

 

“Menjadi Baik Hanya Karena Allah, Bukan Karena Manusia.”

#SemingguMenulis #Ke2

Ditertawai Bulan

“Hahahhaa, dia lagi”, bulan di atas sana jelas sekali sedang menertawai seseorang.

Tengah malam, terjaga, kesulitan memejamkan mata, selimut kusut di ujung kaki, gelisah, bantal jadi guling, guling jadi bantal, ada apa gerangan.

“Hahahaha”, bulan tertawa lebih keras, sampai memegang perutnya, terpingkal-pingkal, sepertinya sudah jadi rutinitasnya tiap malam, menertawai orang di bawah sana.

Guling di lempar kesamping kasur, duduk, menepuk-nepuki nyamuk di leher dan lengannya, asal saja, tentu nyamuk berhasil kabur, kesal, lalu berdiri, beranjak setelah sekian detik melihat kejendela, terbuka, bulan purnama di luar sana.

“Hmmm”, bulan mulai menghentikan tawanya, melihat yang ditertawai beranjak dari kasur, “bukankah biasanya dia hanya memandang layar smartphone, bermalam dalam ketidak jelasan”.

Selesai dua rakaat terakhir, lalu salam, sekian menit tenggelam dalam hening malam, ada lelehan hangat di sepanjang pipi, hingga bisikan lirih memecah sunyi

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ

Kembali hening, do’a terpanjat khusuk hingga selesai, dalam hati.

“aamiin”, kali ini bulan tidak lagi tertawa, tersenyum.

Sebelum akhirnya jendela di tutup, bulan sempat membisikkan sesuatu; “Andai kau tahu betapa inginnya aku memeluk matahari, maka jatuh cintamu tidak ada apa-apanya, semoga Allah memberimu jawaban terbaik”

“aamiin”

#SemingguMenulis #Ke1

a Routine

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah di post di Instagram, saya copy kesini, jaga-jaga siapa tau nanti Keminfo ngasih kebijakan nganu lagi, 😎. Silahkan dibaca, kalau lagi gak ada kerjaan… 😋✌️

Adalah pemuda biasa saja yang tiba-tiba dibangunkan dering handphone. Mengangkat setengah sadar, sebuah panggilan memintanya segera hadir di satu tempat berjarak setengah jam perjalanan menelusur macetnya Jakarta.

Satu kebiasaanーyang burukーyaitu saat sedang khusuk mengendarai motor, abang-abang penjual es cincau atau batagor selalu berhasil membuat kekhusukan berkendara tiba-tiba terganggu, mendadak menekan tuas rem dan putar balik ke arah abang-abang tersebut. Kali ini terjadi lagi, dan pelakunya abang-abang batagor Khas Bandung Rasa Baru. Lumayan, dari pada bengong menghitung mundur angka di traffic light, akan lebih berfaedah jika dilalui sambil satu-persatu menguyah batagor.Read More »

Waktu.

Hari sudah cukup larut, obrolan masih saja hangat di pojok tempat makan di salah satu Mall di bilangan Jakarta Selatan. Perlahan oran-orang mulai meninggalkan meja makannya, atau yang tadinya riuh tertawa kini mulai kehabisan bahasan berganti dengan menatap layar handphone masing-masing, di pojok lainRead More »