Menjadi Ayah?

Pagi ini saya dapat kabar dari teman saya bahwa Istrinya yang sedang mengandung anak pertamanya yang usia kandungannnya baru menginjak kurang dari 4 bulan di vonis dokter mengalami plasenta previa, yaitu letak pasenta yang salah. Seharusnya plasenta berada diatas dinding rahim, namun dalam kasus ini plasenta menempel pada bagian bawah rahim. Pertumbuhan plasenta yang tidak pada tempatnya menyebabkan nutrisi yang harusnya diterima oleh bayi menjadi tidak maksimal sehingga berat bayi tidak sesuai umur kehamilan ( pertumbuhan janin terhambat). Saat ini teman saya tersebut tetap mengusahakan yang terbaik untuk istri dan bayinya.

Lanjutkan membaca “Menjadi Ayah?”

Singapura.

Ada apa dengan negara ini?, mari izinkan saya menjawabnya..

Jadi, ceritanya 5 bulan lalu saya dan 4 teman lain memberi tiket promo ke singapura dari salah satu maskapai Indonesia, padahal saat itu kita sama sekali gak tau bakal bisa berangkat atau tidak, asal beli aja, mumpung promo katanya. Tapi untungnya, di hari H kita semua jadi berangkat, yeayy. Tapi ya tentu saja banyak cerita di balik “kita semua bisa berangkat” itu, dari mulai gak ada duit, gak dapat izin orang tua, gak dapat izin dari kantor, dan lain-lain. Saya sendiri gak dapat izin dari kantor, dan akhirnya dengan sangat terpaksa…  saya kaburr 😂.
Ini pengalam saya yang pertama keluar negeri, dari mulai ngurus pasport, ngerasain ngelewati bagian imigrasi di bandara, ngerasain disapa mbak-mbak kulit putih rambut pirang, dengerin langsung orang india ngomong bahasa inggris, dan banyak lagi deh.

[unfinished]

Seminar yang Tak Pernah Sepi

Harusnya pagi ini pukul 6 tepat aku ada janji dengan partner kerjaku, datang di kampus untuk persiapan akomodasi stand di Gramedia Palmerah, Jakarta. Tapi apa daya, karena telat tidur akibatnya mataku baru melek pukul setengah 7, perjalanan ke kampus sekitar 30 menit, dan sudah dipastikan aku akan telat janjian.
Okelah, aku tetap datang, meski baru sampai di Palmerah pukul 8, ckck luar binasa ngaretnya. Acara yang aku hadiri adalah sebuah seminar, seminar dengan pembicara Ippho Santosa yang bertajuk “100 Juta Pertama”, sebagai peserta ‘gratisan’ hehe, iya soalnya saya sedang buka stand disitu, perwakilan dr kampus Umar Usman. Seminar yang sudah saya hadiri beberapa kali (tetap dengan status gratisan tentunya hehe) ini entah mengapa tidak pernah sepi, padahal materinya selalu sama. Jadi logikanya kalau materi sama, pembicaranya sama, seminarnya pun sangat sering di adakan maka berati tiap kali seminar selalu hadir peserta-peserta baru yang jumlahnya selalu bejibun, emejing yak. Tapi gak heran juga sih, karena memang di seminar ini, selain memang pembicaranya menjadi ‘magnet’ juga karena materi-materi yang disampaikan juga luar biasa, to the point, aplikatif, dan banyak yang sudah mempraktekkan dan berhasil.
Balik lagi nih, tentang saya yang bangun kesiangan hehe. Untungnya, saat saya sampai di Gramedia, seminar belum dimulai, tapi jadi gak enak sama mbak Devi, soalnya dia jadi sendirian angkat-angkat barangnya, duh cowok macam apa aku ini huhu, tapi untungnya kata mbak Devi tadi ada Ibu-ibu yang bantuin dia ngangkat barangnya 😂, Alhamdulillah yah, aku jadi sedikit lega.

[Late Post] TA?!

Senenge reek wes mari…, kate mudik Nang endi awakmu?.., awakmu kurang berkas opo?.. wes mari kabeh kan?..


Kalimat-kalimat pertanyaan seperti itu sering aku dengar berkali-kali dari mulut teman-temanku entah itu di lab JJ-201 atau pas ketemu di parkiran atau ketika papasan di lorong. Ya.. hari ini hari terakhir aku di kampus untuk menyelesaikan semua tanggungan berkas-berkas untuk syarat yudisium pada tanggal 4 Agustus 2014 setelah lebaran nanti.
Oke mumpung lagi lenggang, pengen nulis sedikit, mood nulis muncul lagi gara-gara baca novelnya Ahmad Fuadi, Ranah 3 Warna, yang merupakan buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Buku pertama Cuma sempat aku baca sedikit dulu pas di pondok, minjem teman pastinya hehe. Buku keduanya ini juga belum selesai saya baca, tapi kurang sedikit lagi. Setelah buku pertama diangkat ke layar lebar. Denger-denger dari twitternya si penulis, buku kedua juga dalam perencanaan mau di filmkan, makanya saya kudu selesaikan baca novel yang satu ini, supaya sekedar bisa membandingkan novel dengan filmnya nanti pas nonton  atau supaya bisa bilang, “aku udah pernah lo baca novelnya”. Hehe.
Hmmm.. lelahnya ngerjain Tugas Akhir (TA) memang terasa buanget. Dari sejak SPPA (Seminar Proposal Proyek Akhir) beberapa bulan lalu –  juga lebih populer disebut sidang PPA, yaitu sidang pengajuan judul untuk tugas akhir, setelah sidang biasanya akan ada revisi dari penguji – .Setelah selesai SPPA dan revisi akan ada batas waktu akhir pengumpulan berkas-berkas yang telah disetujui pembimbing dan penguji. Nah, saat pengumpulan ini aja aku sudah mulai merasakan beratnya TA, karena beberapa sebab, aku ngumpulin berkasnya telat, dan akhirnya mondar-mandir bingung nyari pak Taufiq –ketua panitia tugas akhir– untuk ngumpulin berkas tersebut. Keadaan juga sudah malam itu, padahal batas terakhir pengumpulan sore tadi. Dan parahnya lagi akhirnya dapat kabar pak Taufiq sudah pulang. saya hubungi via SMS, tidak ada balasan. Hampir putus asa itu, lemes, takut gak bisa ikut tugas akhir tahun ini, takut wisudanya molor, takut gak bisa wisuda bareng teman-teman sekelas, lulusan ITS 110. Tapi untung lah setelah acara obrolan singkat di depan lab JJ-201 (1) saya seperti dapat semangat baru lagi. Dan besoknya saya menghadap ke pak Taufiq , dengan wajah melas. setelah di omongin ini itu akhirnya berkas saya di terima. YES!. Oke.. i’m ready to fight! Muafa goes to ITS110(2).
O iya, ada momen penting yang hampir lupa aku tuliskan, mengapa saya terlambat mengumpulkan berkas-berkas ke pak Taufiq. Itu karena beberapa judul yang saya ajukan kepada calon pembimbing ditolak!. Pertama ke pak Paulus, ditanggapi dengan baik, tapi setelah dipikir-pikir agak ribet juga alat yang akan saya buat itu, mekaniknya juga susah. Akhirnya maju lagi ke pak Eru, kayaknya pak Eru kurang excited sama alat yang akan saya buat dan akhirnya dia mau jadi pembimbing asal jadi pembimbing kedua. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari judul lain. Setelah dapat judul baru saya ajukan ke pak Ali. Saat saya mengajukan judul ke pak Ali itu sudah hari terakhir deadline pengumpulan berkas ke pak Taufiq. Dan apesnya, judul yang saya ajukan ke pak Ali juga di tolak dengan alasan judul saya sudah pernah diajukan sebelumnya dan alatnya lebih bagus yang dulu. Oh my God, what must I do now??. Lemes.
Saat itu saya ingat teman saya, Faris, Pernah menawarkan judul dari pak Hendri kepada saya. Tanpa pikir panjang lagi, saat itu, satu-satunya jalan keluar yang saya pikirkan adalah menghadap ke pak Hendri untuk mengambil judulnya sebagai TA saya. Padahal pak Hendri terkenal dengan sifatnya yang tegas, disiplin, dingin, yaa.. mungkin termasuk kategori killer lah. But it’s the only way. Cuma ini jalan kaluar yang terpikirkan waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya naik kelantai 3, ke labnya pak Hendri. Deg-deg kan?. Pasti.
Ternyata setelah saya bertemu langsung dan memberi penjelasan saya di sambut dengan baik. Saat itu juga saya disuruh membuat proposal proyek akhir di komputernya pak Hendri. Tidak membuat dari awal, karena pak Hendri sudah membuat proposalnya, saya tinggal merubah formatnya dan menambahi beberapa halaman. ngedit pake google doc (3).

Duh. Tapi untungnya saya diperbolehkan ngeprint langsung di situ. kebetulan disana ada pak Reesa juga dan bersedia jadi pembimbing kedua. Alhamdulillah. Kejadian ini lah yang akhirnya membuat saya terlambat mengumpulkan berkas-berkas revisian ke pak Taufiq.
Hari-hari setelah itu, saat mulai pengerjaan TA, di minggu-minggu awal saya rajin ngadep ke pak Hendri, tapi di pertengahan gak pernah lagi progress. Sampe akhirnya pernah pagi-pagi jam 5 saya di sms pak Hendri. Isinya kira-kira begini: “Bagai mana progres tugas akhirnya?”. Oh meeeennn… sebelum-sebelumnya saya memang sudah ngerasa gimanaaa gitu lama gak ngadep pak Hendri untuk progres TA, akhirnya pagi-pagi jam 7, hari itu juga, sebelum kuliah saya ke ruangan pak Hendri untuk progress. Untungnya gak dimarahi. Fiuhhhhh.

(1) Kami sekelas memang sering ngobrol-ngobrol gak jelas di depan lab, dari obrolan santai, debat gak jelas, sampe pernah juga joget-joget gak karuan.
(2) Maksudnya lulusan ITS yang ke-110. Kata-kata ITS110 menjadi populer pada masa TA, biasa dituliskan dalam bentuk hashtag #ITS110, tulisan itu nantinya dapat mudah ditemui di desain PCB arek-arek.
(3) Pak Hendri memang anti windows, anti nge-crack. pokoknya apa-apa kudu open source. Jadi komputer yang ada di ruangannya juga pake linux semua. Bahkan mahasiswa bimbinganya gak boleh pake Code Vision.

Asempayung, Surabaya ~ Jumat, 25 Juli 2014. 22:26 (H-3 Lebaran dan masih di kos 😈 😩)

Kamu Bukan Hanya Penonton !

tweet

Ah, waktu berlalu begitu cepat, tak terasa hampir sebulan setelah malam itu. Malam yang memaksa saya harus keluar dari kotak nyaman. Berat memang menerima amanah ini. Orang sering salah mengartikan, Sekilas -kadang- saya tampak bisa menjadi pemimpin, padahal sedikit saja di balik terlihat-sepert-bisa-memimpin itu saya lemah, sangat lemah. Too weak.

Entah lah, di rapat itu, saya hanya bisa menerima kenyataan hasil rapat. Beban kah ini? Ah tega sekali mereka meletakkan batu besar di pundakku. Bukan, bukan, mereka hanya ingin agar aku berlatih untuk bisa mengangkat beban itu, menyadarkanku bahwa hidup tak hanya menggenggam kerikil, kadang juga harus memikul beban berat. Bukan begitu?. Entahlah. Lanjutkan membaca “Kamu Bukan Hanya Penonton !”

Pelajaran Ketika Saya Puasa (1)

Saat itu, di minggu-minggu terakhir, saya seperti kehilangan semangat untuk puasa sunnah. Punya niat, tapi realisasinya nol. Misalnya, rabu pagi sudah niat tapi malamnya semangat puasanya menguap. Begitu berlangsung mungkin hingga satu bulan –atau lebih—.

Namun akhirnya—itu pun kebetulan, tanpa niat puasa—malam senin, saya nitip Mie instan ke teman saya karena saya sedang malas keluar rumah. Malam itu saya sempatkan membuat mie via reskuker—:D —untuk sahur malam itu juga, karena akhir-akhir ini saya selalu bangun saat matahari sudah terbit (ini juga kebiasaan buruk baru yang ingin sekali saya hilangkan). Dan, sayapun benar-benar niat untuk puasa besok, meskipun terasa berat karena telah—lumayan—lama meninggalkan puasa sunnah.

Fajar menyingsing. Saya bangun untuk sahur, “Oh!”, ternyata cahaya terang samar-samar terlihat dari balik horden di jendela. Lagi-lagi saya bangun kesiangan, bergegas saya ambil wudhu dan sholat shubuh. Bagaimanapun kali ini saya tidak boleh membatalkan puasa. Kemudian saya mandi dan berangkat ngampus. Bismillah.

Nah, di hari ini lah saya mendapatkan pengalaman yang ingin saya ceritakan disini sekalian latihan nulis.

Siang, sebelum praktikum saya meminjam jas lab (jas untuk praktikum) di kelas tetangga yang sudah lebih dulu praktikum sebelum jam praktikum kelas saya. Jadi kelas mereka kaluar kelas saya masuk untuk praktikum. Belum semapat saya pakai, jas lab tersebut entah kenapa tiba-tiba hilang saat saya melihat-lihat teman saya yang bercanda. Lengah saat itu, tapi tidak sewajarnya hilang.

Alhamdulillah, teman saya ada yang membawa jas lab dua, jadi bisa saya pinjam untuk saat itu. Sepanjang kegiatan praktikum saya mencari, tapi tidak juga ketemu. Hingga akhirnya saya berdo’a agar jas lab itu bisa segera saya temukan.

Beberapa saat setelah usai kuliah, saya ber-papasan dengan taman saya dan dia menanyakan kepada saya apakah ada diantara teman sekelas saya yang kehilangan jas lab, karena tadi saat kelasnya bergantian praktikum dengan kelas saya tidak sengaja dia memasukkan jas lab di atas meja praktikum ke dalam tasnya. Mendengar itu saya kaget, senang, karena orang yang kehilangan adalah saya sendiri. Alhamdulillah, lega. Berkat do’a. Berkat puasa.

“Tiga golongan yang tidak tertolak doanya: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzalimi.” (hadits hasan rwayat Ahmad).

    InsyaAllah To Be Continue..