a Routine

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah di post di Instagram, saya copy kesini, jaga-jaga siapa tau nanti Keminfo ngasih kebijakan nganu lagi, 😎. Silahkan dibaca, kalau lagi gak ada kerjaan… 😋✌️

Adalah pemuda biasa saja yang tiba-tiba dibangunkan dering handphone. Mengangkat setengah sadar, sebuah panggilan memintanya segera hadir di satu tempat berjarak setengah jam perjalanan menelusur macetnya Jakarta.

Satu kebiasaanーyang burukーyaitu saat sedang khusuk mengendarai motor, abang-abang penjual es cincau atau batagor selalu berhasil membuat kekhusukan berkendara tiba-tiba terganggu, mendadak menekan tuas rem dan putar balik ke arah abang-abang tersebut. Kali ini terjadi lagi, dan pelakunya abang-abang batagor Khas Bandung Rasa Baru. Lumayan, dari pada bengong menghitung mundur angka di traffic light, akan lebih berfaedah jika dilalui sambil satu-persatu menguyah batagor.Read More »

Iklan

Waktu.

Hari sudah cukup larut, obrolan masih saja hangat di pojok tempat makan di salah satu Mall di bilangan Jakarta Selatan. Perlahan oran-orang mulai meninggalkan meja makannya, atau yang tadinya riuh tertawa kini mulai kehabisan bahasan berganti dengan menatap layar handphone masing-masing, di pojok lainRead More »

Unfinished Story 

Tersebut satu malam, seorang bocah perempuan kecil menengadah merapal doa seusai sholat malamnya. Entah apa yang dipinta, yang sama-sama kita tahu bulir air mata merayap pelan di pipinya. Isak tangis khas seorang bocah sesekali membuyarkan sepi malam di rumah itu, beruntung teman satu kamarnya tidur sangat pulas, pertahanan tidurya tidak goyah barang satu gerakan pun.

Pagi datang lebih cerah dari kemarin, matahari begitu hangat, pelan mengambil air-air yang semalan di embunkan dingin di permukaan bumi.

Faded Away (for Ms. Muji) 

Ada yang pelan-pelan, sangat pelan bahkan, beranjak pergi. Tidak, tidak menghilang, hanya pergi.

Sosok gadis yang awalnya aku kira amat pendiam, mungkin karena suaranya yang pelan (baca: lembut #uhuk). Dia bahkan (seingatku) orang yang paling terakhir yang akhirnya aku kenal dekat di Kantor. Aku tidak ingat betul kapan Aku pertama kali berani menumpah-ruahkan apa-apa yang mengganjal di dada untuk akhirnya tersampaikan kepada wanita yang darinya Aku dapatkan nasihat-nasihat bak Gurutta dalam Rindu-nya Tere Liye.Read More »

Sementara Tanpa Judul

​Ada yang tiba-tiba mikir: “saya jd tidak sebaik dulu setelah berada di sini”.

Entah di lingkungan kerja, atau pun kuliah misalnya. Ehm, coba flashback ke zaman dimana kalian akhirnya menentukan untuk: “ok, aku akan kerja disini”, atau “bismillah, aku akan kuliah disini”, dan lain sebagainya. Sudahkan kamu libatkan Allah saat kamu mengambil keputusan itu?, dengan terlebih dahulu istikhoroh misalnya, jika jawabannya “sudah”, harusnya tidak ada yg perlu di khawatirkan, mungkin saja kamu sedang di uji, sampai seberapa kamu dapat mempertahankan keimananmu, kebanyakan orang-orang sukses kan sebab karena mereka dipaksa keluar dari kotak nyamannya. Atau dengan keberadaanmu di lingkungan yang menurutmu tidak sebaik tempatmu sebelumnya bisa saja agar kamu dapat menjadikan lingkungan barumu sebagai ladang da’wah. Jangankan di Jakarta, bahkan di tempat sekelas pondok pesantren pun pasti akan kamu temukan sisi-sisi tidak baiknya, dulu saat saya mondok, saya sudah merasakan, ada teman-teman yang kurang baik yang mengajak ke hal-hal yang berbau negatif, dan cara agar saya tidak ikut-ikutan mereka ya dengan memilih teman yang baik, ikut kegiatan-kegiatan yang baik.

Hal yang sama juga lebih saya rasakan lagi saat masuk kuliah, bayangkan saja, yang sebelumnya saya seorang yang unyu-unyu yang baru saja lulus dari pesantren akhirnya harus kuliah di sebuah ptn negeri, pergaulan di kampus negeri pasti akan jauh berbeda dengan yang ada di pondok, dan benar saja, memang begitu keadaannya, akhirnya agar saya tidak kelewat jauh dengan agama saya ikut menyemplungkan diri di LDK kampus. Tapi ya akhirnya saya bersyukur pernah berada di lingkungan seperti itu, ternyata kebanyakan dr teman-teman saya adalah orang yang “ingin baik”, mereka banyak bertanya ini itu tentang agama (walau akhirnya mereka kurang mendapatkan jawaban yang memuaskan karena ilmu agama saya juga sebenarnya kurang hehe), sebagian lagi ada yang minta di ajari ngaji karena belum lancar, dan lain sebagainya. Saya jadi tahu, oh ternyata begini orang-orang di luar sana, oh ternyata begini orang-orang yang bukan lulusan pesantren. Ajak mereka berteman, ajak untuk saling mengingatkan.

Intinya jangan pernah menyalahkan atau menyesali pilihan, apalagi jika sudah melibatkan Allah dalam pilihanmu. Pilih teman-teman yang baik yang bisa di ajak saling mengingatkan dalam hal baik. Jika kamu menemukan teman-teman yang “ingin menjadi baik” maka itu akan lebih bagus lagi, itu ladang da’wah, saling bernasihat, saling mengingatkan, bukankan disitu kamu akan merasakan indahnya islam (hehehe) 😄.

Jadi, laa tahzan.. Jangan sedih lagi, kalo masih sedih,.. Sini om beliin es krim 😝.

~ Ciputat, 25 Januari 2017