About Me

Ehm… 

Sedikit perjalan hidupku. aku adalah yang 20 tahun lalu terlahir sebagai bayi mungil. 12 desember 1992. di sebuah kota kenangan-bagiku-, Balikpapan, Kalimantan. sebenarnya aku ini asli orang Jawa karena kedua orang tuaku asli Jawa. Ummi (begitu aku memanggil Ibuku) berasal dari Solo, sebuah kota di Jawa Tengah. dan Abi (dan ini panggilan untuk ayahku) asli dari Paciran, Lamongan.

Masa bayiku aku habiskan di Balikpapan. Hingga saat umurku dua tahun orang tuaku kembali dikaruniai seorang bayi laki-laki. bayi itu, adikku, diberi nama Ilham Al-Karomi.

Oh iya, sedikit tentang mengapa orang tuaku bisa berada jauh dari kampung halamannya. Setahuku, mereka dulunya mondok di sebuah pesantren, di Balikpapan. mugkin sudah setingkat Kuliah lah di sana. dan mereka menikah di sana. nikah massal. bersama 22 pasangan santriwati dan satriwan di sana. cerita pastinya aku belum tahu. aku hanya mendengar dari Budhe dan Pakdheku. Karena orang tuaku tidak pernah cerita kepadaku. Mau minta ceritapun sungkan. Maklum dulu aku masih kecil. Saat kelas satu MTS (Madrasah Tsanawiyah -setingkat SMP- ) aku sudah hijrah ke Jawa. ke Lamongan. menjadi santri di salah satu pondok disana. Jauh dari orang tua jelasnya. Mmm.. satu lagi, Bulekku baru-baru ini juga pernah cerita kepadaku. dulu katanya, Abi saat SMA menyukai seorang cewek, tapi Mbahku (ibu dari abiku) tidak merestui hubungan mereka, daaan akhirnya Abiku ngambek, dan kabur ke Balikpapan 😀 . dasar.. anak muda. entahlah itu benar atau tidak. kadang kehidupan orang tuaku menjadi misteri tersendiri bagiku.

setelah beberapa lama di Balikpapan. karna ditugaskan untuk merintis cabang sebuah pesantren, keluargaku pindah ke sebuah kota di Padang. Payakumbuh. dan disini aku kembali mendapatkan seorang adik perempuan. 27 Juni 1996. Sedikit sekali kenangan yang aku ingat di kota ini. Yang paling aku ingat di kota ini adalah hamparan hijau sawahnya, disana dulu Aku, Abiku dan adikku pernah bermain Layangan saat musing layangan. Abi sendiri yang membuatnya. Hanya ini. Ya hanya ingatan kecil ini yang aku bawa dari kota kecil itu.

Kabupaten kepulauan Mentawai
kepulauan Mentawai yang berwarna coklat tua

Selanjutnya, Abi kembali mendapat tugas untuk merintis cabang. Di sebuah kepulauan terpencil di pinggirang Sumatra Barat, Mentawai. Di daerah yang masyarakat pribuminya menyebut dengan sebutan Bumi Sikerei ini saya dan keluarga saya melanjutkan hidup.

Banyak tantangan untuk hidup disana, terutama harus menyesuaikan dengan masyarakatnya yang sebagian besar tidak beragama islam. Ummi tidak membolehkan anggota keluargaku berobat kerumah sakit disana, ragu dengan ke-halal-an pengobatannya nya. bahkan jika sakit parahpun tetap tidak akan dibawa kerumah sakit. Pernah suatu saat saya bermain bola dengan tetangga saya. sebaya dengan saya. kami bermain di ruang depan di rumahku. ruangan ini entah mengapa dibuat sangat lebar sekali, selebar lapangan futsal-atau mungkin lebih-, mungkin agar bisa memuat banyak orang jika ada acara di rumahku. mungkin. Beberapa saat bermain disitu, saya tidak menyadari kalau ada tumpukan seng yang sewaktu-waktu dapat membahayakan saya, mungkin Orangtuaku juga tidak menyadari kalau berbahaya meletakkan seng disitu. tapi nasi telah menjadi bubur, terlambat untuk memindahkan, karena saat bermain bola, saat aku sebagai kiper akan menghalangi bola, tak sengaja kaki kananku menendang tumpukan seng disitu. sakit bukan kepalang aku rasakan (Ah, lebay!, sebenarnya aku suda lupa rasa sakitnya seperti apa dulu.. hehe..).Telapak kaki bagian atasku sobek. entah daging atau tulang yang aku lihat berwarna putih dikakiku itu. temanku, tetanggaku yang tadi bermain dengan ku lari pulang. Pasti Dia ketakutan melihatku, melihat darah bercucuran dari kakiku, atau mungkin takut disalahkan karena telah bermain bola denganku. Ummi yang mengetahui keadaanku langsung, menggendongku, membawaku, berlari ketakutan, tidak membawaku ke rumah sakit, tapi kekamar. Mengobati sendiri luka di kakiku. Pasti Dia mengobatiku dengan penuh kesabaran. Jujur aku baru tersadar saat menulis ini. Betapa besar perjuangan orang tuaku untuk anak-anaknya. Aku terutama. Sebagai anak pertama mereka. Thanks Mom, Dad.

Insya Allah To be Continue..

Iklan

Silahkan berkomentar disini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s