Titik Bifurkasi

(Sayangnya ini bukan) Sebuah fiksi, tentang Aku, Kamu, dan.. Dia.

Mari, aku ceritakan satu kejadian, yang pernah membuatku sakit. Kalian juga harus tahu, aku mulai terbiasa merasakan ini.

..::..

Jam sebelum ashar di Jakarta, Senayan, JCC tepatnya. Hari itu sedang ada pameran buku, Indonesia International Book Fair (IIBF). Aku dan temanku berkeliling dari satu booth ke booth lain, bertemu penulis yang terkenal ‘misterius’, Tere Liye, dan memintanya menandatangani salah satu bukunya yang aku bawa dari rumah, AMELIA. Jauh-jauh hari aku pernah bilang buku ini nantinya untukmu, karena kamu dan Amelia sama-sama anak bungsu. Pasti lebih spesial kalau ada tanda tangan penulisnya.

Aku dan temanku istirahat sejenak, duduk di ujung lorong, pikiranku tak tenang, jantungku berdegup tak karuan, aku bisa dengan jelas merasakannya, seperti memukul-mukul dadaku dari dalam, entah kenapa, bahkan badanku mulai panas-dingin. Memandangi satu-satu dengan teliti lalu-lalang orang di ujung yang lain, sekitar lima puluh meter jaraknya –atau mungkin lebih. Aku berharap melihatmu di antara orang-orang itu. Ah, sebenarnya aku tidak benar-benar percaya bisa melihatmu lewat di ujung sana, seperti di film saja.

Tapi, tidak lama, sekitar sepuluh menit setelah aku duduk –atau mungkin lebih, di ujung sana aku melihat Dia, tak yakin sebenarnya, aku belum melihatmu.

“Fan, aku ke sana dulu ya, kamu tunggu di sini”, aku berdiri, tergesa-gesa aku izin ke temanku, untuk mendekat memastikan sosok kelebat Dia di ujung sana. “Iya fa”, jawabnya pendek sambil terus memandangi handphone-nya”, jantungku semakin tak karuan, tapi aku harus tenang.

Benar saja, setelah aku mendekat, ternyata itu memang Dia, dan ada kamu tepat di sampingnya. Aku hanya melihat diam-diam dari booth lain, mengambil buku apapun yang dapat aku pura-pura baca, tanganku memegang buku, sedikit gemetar, sementara mataku memperhatikan kalian berdua, dan hatiku…. haha, jangan tanya. Kamu memakai kerudung hitam, bajumu juga hitam, celananya, sepatunya, juga hitam. Sama-sama membawa ransel. Kamu memakai ransel cokelat. Dia menggendong ransel hitam dan terselip di kantong samping ransel sebotol air mineral, Apa kalian juga minum dari botol yang sama, seperti yang biasa kita lakukan?. Aku juga memakai tas hitam kok, tetapi hanya memperhatikan saja.

Aku melihat dia membawa kantong plastik putih yang terisi penuh oleh buku, pasti kalian baru saja memborong buku-buku itu tadi, pasti tadi kalian asyik berbincang-bincang tentang buku ini dan itu, mendiskusikan buku mana yang bagus untuk di beli. Ah.. aku cemburu.

Kalian kembali berjalan, berdampingan, melihat-lihat booth lain, sampai akhirnya berhenti melihat dua orang yang cukup tua bernyanyi, menyanyikan syair-syair dan puisi Sapardi, dari sekian banyak yang di nyanyikan aku tertarik mendengarkan salah satu yang berjudul Hujan Bulan Juni, karena aku pernah membaca puisi itu sebelumnya, yang aku tahu puisi itu juga ada versi komiknya. Selain lagu itu, aku tidak lagi tahu mereka berdua menyanyikan apa, aku hanya memandangi kalian berdua dari sisi lain kerumunan penonton. Memandangi wajahmu di sela-sela dagu penonton, kadang aku perlu sedikit mundur atau maju saat hanphone salah satu penonton yang merekam orang tua itu bernyanyi menghalangi pandanganku ke wajahmu. Kalian lebih banyak diam saat melihat pertunjukan itu, benar katamu, kamu dan dia masih terlihat canggung. Tapi kadang kamu menoleh ke arahnya mengatakan atau mungkin bertanya sesuatu, dia mendekatkan telinganya ke wajahmu karena mungkin suaramu terdengar pelan, dekat sekali, dan kamu mengulangi mengatakan atau menanyakan sesuatu tadi setelah dia mendekatkan telinganya kepadamu. Kadang kamu tertawa padanya. Ah.. aku cemburu.

Beberapa saat aku tak memperhatikan kalian, karena ternyata ada lagu lain yang membuatku tertarik, saat aku menoleh lagi ke kalian, kalian sudah tidak ada di situ, aku panik, aku berjalan cepat ke pintu keluar, menoleh-noleh lagi memastikan kalian di mana. Hilang!. Aku mempercepat langkahku keluar, melihat di jalan, kiri, kanan, tidak ada. Aku menyusuri lagi jalan di depan, melihat setiap orang yang sedang duduk, berjalan, ngobrol, semuanya. Tapi yang kucari tetap tidak ada. Lemas. Aku kembali masuk ke ruang pameran. Oh!, ternyata kalian masih di dalam. Kaosku sedikit basah oleh keringat, nafasku tersengal, tapi aku lega, masih dapat memandangimu lebih lama di situ, meski tidak di sampingmu. Andai saat itu aku yang di sampingmu, pasti akan mengajakmu ke mushola di bawah, segera, sudah masuk waktu ashar, sholat dulu yuk. Begitu.

Saat pulang, di kos, aku masih panas dingin, meriang, sakit. Lalu tidur lebih cepat dari biasanya.

Sejak itu, aku mulai terbiasa… dan selalu memaafkan walau sebenarnya tidak ada yang salah. Perasaanku tentu juga tidak dapat disalahkan, kan?.

~ Ciputat, 7 September 2015

Nb: Ini tulisan lama, jadi, arapmaklum, lebay-alay gimanaaa gitu wkwkwk

Iklan

2 thoughts on “Titik Bifurkasi

Silahkan berkomentar disini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s