Menjadi Ayah?

Pagi ini saya dapat kabar dari teman saya bahwa Istrinya yang sedang mengandung anak pertamanya yang usia kandungannnya baru menginjak kurang dari 4 bulan di vonis dokter mengalami plasenta previa, yaitu letak pasenta yang salah. Seharusnya plasenta berada diatas dinding rahim, namun dalam kasus ini plasenta menempel pada bagian bawah rahim. Pertumbuhan plasenta yang tidak pada tempatnya menyebabkan nutrisi yang harusnya diterima oleh bayi menjadi tidak maksimal sehingga berat bayi tidak sesuai umur kehamilan ( pertumbuhan janin terhambat). Saat ini teman saya tersebut tetap mengusahakan yang terbaik untuk istri dan bayinya.

Bagi saya yang belum menikah, berita tersebut tentu saja agak membuat saya deg-degkan. Membayangkan bagaimana nanti saya menjadi seorang suami. Bertanggug jawab penuh terhadap istri dan anak-anak saya. Secara kan umur juga udah masa-masa rawan nikah nih, hehe. Tapi bagaimanapun nantinya dan dengan siapapun saya berjodoh–ehem, ngomongin jodoh nih—saya berkomitmen untuk melakukan yang terbaik untuk keluarga saya. Pernah bertemu dengan orang yang—mungkin—salah telah banyak mengajarkan saya tentang sebuah hubungan. Tentang bagaimana menghargai wanita, menjaga perasaannya, memahami, bagai mana menasehati, serta bagaimana berjalan bersama tanpa menuntun atau di tuntun yaitu tentang bagaimana menyamakan visi dan misi agar dapat berjalan bersama dengan kesepakatan. Betul begitu bukan?. Dan satu lagi, tentang membenarkan konsep bahwa cinta sejati itu sejatinya juga rela  melepaskan—hehe.

Di kantor, saya dan teman saya tersebut duduk bersebelahan. Kadang—atau mungkin sering sebenarnya—saya menanyakan hal-hal absurd mengenai hubungan dia dengan istrinya, maklum saya kan amatir, jadi konsultasi lah sama yang lebih dulu berpengalaman hehe.

“Zis, istrimu suka ngambek gak sih kalo misal ada hal-hal yang gak kamu turutin?”

“Dulu maharmu apa?” (gara-gara jawaban dari pertayaan ini saya jadi semangat (niat) nabung emas wkwkwk.

“Itu di jarimu cincin belinya sebelum nikah apa sesudahnya?”, “Bawa bungkusan nih, dimasakin istri?”, “masih pagi udah lemes amat, semalam ngelembur bro?”, dan seabrek pertanyaan lain. Dari sekian banyak jawaban yang ia berikan dari pertanyaan saya, saya sering menyimpulkan: Ternyata semua wanita sama. Iya,sama. Saya membandingkan dengan—ehem—yang dulu, tidak jauh berbeda, saya kira orang yang mempunyai hubungan sepesial yang kemudian berlanjut ke pernikahan pasti karena hubungannya baik-baik saja. Ternyata ya sama aja, kadang masih ngambek-ngambekan, marah-marahan. Saya pernah membaca di sebuah buku, jika dalam hubungan tidak ada masalah apa-apa, tenang-tenang saja, justru perlu dipertanyakan. Kita tahu tak semuanya sejalan, tapi dalam hubungan yang sehat pasti akan menemukan jalan tengah untuk saling menguatkan.

Dan akhirnya, semoga istri di beri kekuatan ya Sob, juga bayinya. Jika bayimu lahir, dan dia sudah cukup besar—dan aku tidak lupa—akan aku ceritakan padanya perjuangan ibunya, agar dia lebih menghormati dan menghargai orang tuanya. Dan jika suatu saat dia menyukai seorang wanita (kalau anaknya laki-laki) aku berharap jangan pernah sedikitpun sengaja melukai wanitanya, tubuhnya, apa lagi hatinya.

Do’a kami bersama selalu akan terbumbung sehabis sholat, semoga di beri kelancaran hingga hari persalinan. Terimakasih untuk semua pengalaman-pengalaman yang diceritakan pada kami para jomblo—uhuk—, selalu akan menjadi pelajaran baik. keep be a good husband and father brohh!. Untuk calon bayi, semoga dia sekuat cinta Ayah dan Ibunya.

~ Ciputat, 8 Oktober 2016
Iklan

Silahkan berkomentar disini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s