Pelajaran Ketika Saya Puasa (1)

Saat itu, di minggu-minggu terakhir, saya seperti kehilangan semangat untuk puasa sunnah. Punya niat, tapi realisasinya nol. Misalnya, rabu pagi sudah niat tapi malamnya semangat puasanya menguap. Begitu berlangsung mungkin hingga satu bulan –atau lebih—.

Namun akhirnya—itu pun kebetulan, tanpa niat puasa—malam senin, saya nitip Mie instan ke teman saya karena saya sedang malas keluar rumah. Malam itu saya sempatkan membuat mie via reskuker—:D —untuk sahur malam itu juga, karena akhir-akhir ini saya selalu bangun saat matahari sudah terbit (ini juga kebiasaan buruk baru yang ingin sekali saya hilangkan). Dan, sayapun benar-benar niat untuk puasa besok, meskipun terasa berat karena telah—lumayan—lama meninggalkan puasa sunnah.

Fajar menyingsing. Saya bangun untuk sahur, “Oh!”, ternyata cahaya terang samar-samar terlihat dari balik horden di jendela. Lagi-lagi saya bangun kesiangan, bergegas saya ambil wudhu dan sholat shubuh. Bagaimanapun kali ini saya tidak boleh membatalkan puasa. Kemudian saya mandi dan berangkat ngampus. Bismillah.

Nah, di hari ini lah saya mendapatkan pengalaman yang ingin saya ceritakan disini sekalian latihan nulis.

Siang, sebelum praktikum saya meminjam jas lab (jas untuk praktikum) di kelas tetangga yang sudah lebih dulu praktikum sebelum jam praktikum kelas saya. Jadi kelas mereka kaluar kelas saya masuk untuk praktikum. Belum semapat saya pakai, jas lab tersebut entah kenapa tiba-tiba hilang saat saya melihat-lihat teman saya yang bercanda. Lengah saat itu, tapi tidak sewajarnya hilang.

Alhamdulillah, teman saya ada yang membawa jas lab dua, jadi bisa saya pinjam untuk saat itu. Sepanjang kegiatan praktikum saya mencari, tapi tidak juga ketemu. Hingga akhirnya saya berdo’a agar jas lab itu bisa segera saya temukan.

Beberapa saat setelah usai kuliah, saya ber-papasan dengan taman saya dan dia menanyakan kepada saya apakah ada diantara teman sekelas saya yang kehilangan jas lab, karena tadi saat kelasnya bergantian praktikum dengan kelas saya tidak sengaja dia memasukkan jas lab di atas meja praktikum ke dalam tasnya. Mendengar itu saya kaget, senang, karena orang yang kehilangan adalah saya sendiri. Alhamdulillah, lega. Berkat do’a. Berkat puasa.

“Tiga golongan yang tidak tertolak doanya: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzalimi.” (hadits hasan rwayat Ahmad).

    InsyaAllah To Be Continue..

Iklan

Silahkan berkomentar disini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s